Syarat/komponen dalam fotografi:
- Cahaya (Light)
Cahaya adalah energi berbentuk gelombang elektromagnetik yang kasat mata dengan panjang gelombang sekitar 380–750 nm. Pada bidang fisika, cahaya adalah radiasi elektromagnetik, baik dengan panjang gelombang kasat mata maupun yang tidak.
Abu Ali Hasan Ibn al-Hyitham (965–sekitar 1040), dikenal juga sebagai Alhazen. Dia adalah salah satu ilmuwan pertama untuk memahami bahwa cahaya berasal dari matahari, api, dan lain objek menyalakan dan tidak memancarkan dari mata manusia.
Adanya cahaya yang cukup merupakan sesuatu yang mutlak harus ada untuk menghasilkan foto yang menarik. Cahaya sendiri dibagi menjadi dua jenis, yakni cahaya visible dan cahaya invisible.
Cahaya visible adalah cahaya normal yang dapat tertangkap oleh mata manusia, baik itu cahaya alami yang bersumber dari cahaya matahari maupun cahaya buatan manusia yang bersumber pada lampu continues maupun flashlight atau yang biasa dikenal dengan sebutan blitz.
Cahaya invisible contohnya adalah seperti dalam pemotretan dengan infra merah atau sinar X untuk rontgen. (http://fhiaphotography.wordpress.com/)
- Kepekaan media terhadap cahaya/ ISO/ ASA
Dalam dunia fotografi tidak akan pernah terlepas dari istilah kepekaan cahaya, kepekaan cahaya disini diistilahkan dengan ISO/ASA. Sebenarnya selain kedua istilah itu masih ada beberapa istilah untuk standarisasi kepekaan cahaya, hanya saja yang terkenal ialah ASA, yang mana digunakan sebagai standarisasi oleh Amerika. Dikarenakan adanya keanekaragaman istilah standarisasi di setiap negara dibuatlah istilah ISO, yang kemudian digunakan sebagai standarisasi yang telah disepakati oleh seluruh dunia/internasional.
Pengertian ISO / ASA sendiri
adalah Kecepatan film adalah istilah dalam fotografi untuk mengukur tingkat kesensitivitas atau kepekaan film foto terhadap cahaya. Film dengan kepekaan rendah (memiliki angka ISO rendah) membutuhkan sorotan (Inggris: exposure) yang lebih lama sehingga disebut slow film, sedangkan film dengan kepekaan tinggi (memiliki angka ISO tinggi) membutuhkan exposure yang singkat. (http://citrastudio.com/teknik-fotografi.html)Kecepatan film adalah istilah dalam fotografi untuk mengukur tingkat kesensitivitas atau kepekaan film foto terhadap cahaya. Film dengan kepekaan rendah (memiliki angka ISO rendah) membutuhkan sorotan (Inggris: exposure) yang lebih lama sehingga disebut slow film, sedangkan film dengan kepekaan tinggi (memiliki angka ISO tinggi) membutuhkan exposure yang singkat.
Standarnya dikenal dengan ISO 5800:1987 dari International Organization for Standarization (ISO) yang menetapkan skala linear dan skala logaritmik untuk mengukur kecepatan film. Skala linear ISO dikenal dengan ASA.
(http://id.wikipedia.org/wiki/Kecepatan_film)
Angka untuk ISO/ASA yang umum digunakan adalah 25, 50, 100, 200, 400 dan seterusnya yang merupakan kelipatan dari angka sebelumnya. Semakin besar angka ISO/ASA maka semakin peka terhadap cahaya dan memiliki butiran yang semakin kasar, begitu pula sebaliknya bila semakin kecil angka ISO/ASA maka semakin kurang peka pula terhadap cahaya.
Penggunaan ASA/ISO dengan angka yang besar memungkinkan pemotretan dengan hanya sedikit cahaya seperti dalam ruangan, sore hari/mendung tetapi mempunyai efek hasil gambar yang kasar terutama dalam pencetakan gambar yang besar. Sedangkan ASA/ISO yang kecil membutuhkan banyak cahaya tetapi menghasilkan gambar yang halus dalam pembesarannya.
- Colour Mood
Warna sebenarnya dapat mempengaruhi kita baik secara mental maupun secara fisik, namun kita terkadang tidak menyadarinya. Di dalam buku The Power of Color milik Dr. Morton Walker, bahwa orang Mesir kuno serta Native American Indian menyarankan penggunaan warna dan cahaya berwarna untuk penyembuhan. Telah banyak ilmuwan yang telah menunjukan hubungan antara mood (suasana hati) dengan warna. Di bawah terdapat bagan yang menunjukan hubungan warna dengan mood.
Dari bagan di atas menunjukan warna-warna dapat mempengaruhi hati seseorang.
Berikut adalah beberapa asosiasi emosional bahwa manusia cenderung memiliki dengan warna tertentu
Warna Hitam:
Hitam adalah tidak adanya cahaya. Warna ini mewakili kekuatan/keras, seksualitas, kecanggihan, berlebihan, formalitas, gelisah, gugup, keanggunan, kekayaan, misteri, ketakutan, kejahatan, anonimitas, ketidakbahagiaan, kedalaman, gaya, kejahatan, kesedihan, penyesalan, kemarahan, bawah tanah, warna teknis yang baik, berkabung dan kematian. Dalam sehari-hari kita sering "Black Market" atau "Black Monday".
Warna Abu:
- Gelisah
- Tegang
Warna Kuning Sawo:
- Gelisah
- Emosi
- Sejuk, tenang
- Belum mapan
Warna Hijau:
Salah satu yang paling sering menjadi warna favorit . Hijau mewakili alam, lingkungan, kesehatan, keberuntungan, pembaharuan, muda, kekuatan, musim semi, kemurahan hati, kesuburan, kecemburuan, pengalaman, iri hati, kemalangan, stres besar, aktif.
- Di Cina, hijau bukan warna yang baik untuk kemasan.
- Di Perancis penelitian telah menunjukkan hijau bukanlah pilihan warna yang baik untuk kemasan baik.
- Di India hijau adalah warna Islam.
- Dalam hijau Irlandia memiliki signifikansi agama (Katolik).
- Di beberapa negara tropis, hijau dikaitkan dengan bahaya.
Warna Biru-Hijau:
- Batin
- Emosi
- Membebankan
- Santai
Warna Biru:
Biru mewakili perdamaian, ketenangan, tenang, mudah, santai, disenangi, stabilitas, harmoni, kesatuan, kepercayaan, kebenaran, kepercayaan, konservatif, keamanan, kebersihan, ketertiban, loyalitas, langit, air, dingin, teknologi, dan depresi.
Biru dapat "memperlambat denyut nadi, suhu tubuh lebih rendah, dan mengurangi nafsu makan." Biru dianggap warna bisnis karena mencerminkan keandalan.
- Di Cina, biru dikaitkan dengan keabadian.
- Di Kolombia, biru dikaitkan dengan sabun.
- Untuk biru Hindu adalah warna Krishna.
- Untuk Yahudi, biru melambangkan kesucian.
- Di Timur Tengah biru adalah warna pelindung.
- Biru juga sering dianggap sebagai warna global.
Warna Biru Tua:
- Sangat gembira
- Cinta
- Bernafsu, berkeinginan besar
- Romantis
Warna Putih:
Putih adalah apa yang kita lihat saat semua warna berkumpul dalam keseimbangan sempurna. Menunjukan penghormatan, kemurnian, kesederhanaan, kebersihan, frustasi, bingung, bosan, kedamaian, kerendahan hati, presisi, tidak bersalah, pemuda, kelahiran, musim dingin, salju, baik, kemandulan, dan pernikahan.
Kita sering menggunakan putih dalam kiasan seperti "murni sebagai salju" atau "kebohongan putih." We associate white with the good guy in old western movies. Juga mengasosiasikan putih dengan orang baik dalam film-film barat lama.
- Di Jepang, anyelir putih menandakan kematian.
- Dalam budaya timur putih melambangkan sikap dingin dan kemandulan.
Warna Perunggu:
- Kegelisahan
- Antisipasi, menantikan
- Gelisah
- Pikiran
Warna Pink:
- Takut
- Tidak pasti
- Tak terjawab
- Pertanyaan
Warna Kuning:
Kuning mewakili sukacita, imajinatif, merasa ragu, merasa baik, kebahagiaan, optimisme, idealisme, imajinasi, harapan, sinar matahari, musim panas, emas, filsafat, ketidakjujuran, pengecut, pengkhianatan, kecemburuan, iri hati, penipuan, penyakit, bahaya, spirtuality dan inspirasi. Kuning juga adalah simbol persahabatan, kurang bergairah atau mengancam.
- Di Asia kuning adalah suci, dan imperial.
Warna Oranye:
Adalah kombinasi kuning dan merah. Oranye dianggap sebagai warna yang hangat seperti merah, tetapi pada tingkat yang lebih rendah; oranye mengekspresikan energi. Juga memiliki kualitas bercahaya dan telah digunakan untuk menarik perhatian tujuan, seperti pada tanda hati-hati. Juga sebagai stimulasi, penggagas, berani, juga berkeinginan.
Orange membawa kenangan daun jatuh, labu dan Halloween. Yang mana melambangkan keseimbangan, kehangatan, antusiasme, dan menuntut perhatian.
- Di Irlandia memiliki signifikansi agama (Protestan).
Warna Merah:
Adalah warna yang paling menarik perhatian. Warna ini ialah yang paling energik dan terhangat warna dalam spektrum. Merah dapat dikaitkan dengan cinta, valentine, bahaya, keinginan, kecepatan, kekuatan, eksitasi, bersemangat, petualangan, siap, kekerasan, kemarahan, tanda keluar darurat, tanda berhenti dan darah.
Merah dapat membangkitkan respons melawan, meningkatkan tekanan darah dan membuat jantung berdetak lebih cepat. Merah juga tidak akan menjadi warna pilihan untuk bangsal psikiatri, penjara atau rumah sakit.
- Di Cina merah melambangkan perayaan dan keberuntungan, digunakan dalam upacara budaya yang banyak berkisar dari pemakaman ke pernikahan.
- Di India merah adalah warna kemurnian (digunakan untuk pakaian pernikahan).
Warna Ungu:
Ungu menunjukan royalti, sensual, kejernihan, bertujuan, dikenal, spiritualitas, bangsawan, upacara, misteri, transformasi, kebijaksanaan, pencerahan, kekejaman, kesombongan, berkabung. Ungu juga dianggap warna yang eksotis dan kreatif.
Cahaya matahari (daylight) berubah sepanjang hari. Mulai dari pagi hingga menjelang malam, intensitas dan warna cahaya mengalami perubahan. Perubahan ini kemudian mempengaruhi hormon dalam tubuh kita, yaitu cortisol dan melatonin.
Sekitar pukul 9.00, hormon cortisol meningkat karena terkena cahaya matahari sehingga kita merasa aktif dan bersemangat. Sementara, ketika cahaya matahari berkurang (sekitar pukul 15.00), hormon melatonin mengalahkan cortisol sehingga kita merasa lelah dan mengantuk.
Hal ini menunjukan bahwa cahaya, khususnya cahaya matahari dapat merubah mood seseorang sesuai dengan intensitas cahaya yang dihasilkan/dikeluarkan sumber cahaya yang dipantulkan terhadap objek yang mana objek tersebut dapat dilihat oleh panca indera.
Pengaruh "color mood" akan lebih jelas terlihat dari contoh berikut ini:
Apabila ada sebuah foto bergambar padang pasir (gurun) maka penikmat foto ini akan mempersepsikan bahwa foto tersebut menimbulkan suasana yang gersang, panas, kering, dsb.
Contoh foto:
Namun bila dibandingkan dengan foto air terjuna, penikmat foto pun akan mempersepsikan hal yang berbeda, ia akan berargumen bahwa foto tersebut menunjukan sesuatu hal yang dapat membuat suasana tenang, sejuk, dingin, rileks, dsb.
Contoh foto:
- Gelisah
- Exposure (Pajanan)
Pajanan (atau lebih populer dalam istilah Bahasa Inggris exposure) adalah istilah dalam fotografi yang mengacu kepada banyaknya cahaya yang jatuh ke medium (film atau sensor gambar) dalam proses pengambilan foto.
Untuk membantu fotografer mendapat setting paling tepat untuk Exposure, digunakan lightmeter. Lightmeter, yang biasanya sudah ada di dalam kamera, akan mengukur intensitas cahaya yang masuk ke dalam kamera. Sehingga didapat Exposure normal.
Hal-hal yang mempengaruhi Exposure
Exposure dipengaruhi oleh tujuh hal, yaitu:
- Jenis dan intensitas sumber cahaya
- Respon benda terhadap cahaya
- Jarak kamera dengan benda
- Shutter speed.
- Bukaan.
- Ukuran ISO/ASA film yang digunakan.
- Penggunaan filter tertentu.
Pengaruh tingkat Exposure
Tingkat Exposure akan mempengaruhi tingkat keterangan foto secara keseluruhan. Selain itu, respon tiap benda di dalam satu karya fotografi akan berbeda, sehingga dengan pengolahan yang tepat fotografer bisa mengatur emphasis yang dihasilkan.
Exposure tidak normal
Ada dua jenis Exposure tidak normal yang sering ditemui di dalam karya fotografi, yaitu over eksposure dan under exposure.
Overexposure adalah keadaan foto yang dipajan lebih lama dari yang diinstruksikan lightmeter atau subjek yang ditangkap lebih terang dari sebenarnya. Sementara under exposure adalah keadaan sebaliknya.
Tidak ada ukuran benar atau salah untuk penentuan Exposure. Seluruhnya tergantung tingkat emphasis dan hasil foto yang diinginkan fotografer.
Nilai Exposure
Seperti kita ketahui bahwa cahaya luar akan diteruskan oleh lensa menuju ke atas focal plane. Dalam perjalanannya, cahaya tersebut melewati rintangan-rintangan optik sepanjang jajaran lensa dan sebagian darinya akan diredam (karena tidak mempunyai amplitudo/intensitas yang cukup siknifikan), atau terpantul oleh permukaan tiap-tiap jajaran lensa hingga mempengaruhi akurasi warna pada hasil foto akhir, menimbulkan efek flare atau ghosting artifact/motion blur; sebagai akibat dari sifat lensa yang meneruskan, membiaskan, meredam, memantulkan cahaya.
Ini berarti bahwa, walaupun lensa-lensa komersial telah ditera berdasarkan standar CCI (Colour Contribution Index) yang ditetapkan oleh IOS (International Organization for Standardization), penggunaan bahan gelas/kaca yang berbeda untuk tiap-tiap lensa beserta jenis coating yang dipakai akan berpengaruh pada lebar spektrum dan intensitas cahaya yang sampai ke permukaan focal plane.
Pada sekitar tahun 1950, konsep mengenai en:exposure value dikembangkan di Jerman untuk menyederhanakan pengukuran cahaya yang jatuh ke atas focal plane dengan menghilangkan parameter lensa untuk mendefinisikan nilai Exposure yang absolut menjadi relatif.
Nilai Exposure absolut menurut standar fotometri didefinisikan sebagai daya pendar (, bukan intensitas) cahaya yang terjadi di atas focal plane pada rentang waktu tertentu, dirumus:
di mana:
- H adalah nilai Exposure/luminous exposure (lux detik)
- E adalah tingkat iluminasi pada focal plane (lux)
- t adalah rentang waktu iluminasi (detik)
Nilai Exposure relatif yang lebih sering dipakai dalam fotografi didefinisikan dari parameter kamera yang berpengaruh terhadap tingkat iluminasi pada focal plane, yaitu en: aperture dan en: shutter
speed. Rumus yang digunakan adalah:
di mana:
- EV adalah nilai Exposure (stop)
- N adalah nilai aperture (f-number)
- t adalah nilai shutter speed/rentang waktu iluminasi (detik)
Nilai Exposure serupa menurut proposal standar sistem APEX (Additive system of Photographic Exposure) dari ASA (American Standards Association) adalah penyederhanaan formulasi logaritmik di atas menjadi aritmatik:
di mana: Av (nilai aperture) and Tv (nilai rentang waktu iluminasi) didefinisikan:
Av = log2
A2
dan
Tv = log2
dengan
- A adalah nilai aperture (f-number)
- T adalah rentang waktu iluminasi/shutter speed (detik)
- Ev adalah nilai Exposure (stop)
- Av adalah nilai f-stop (stop)
- Tv adalah nilai shutter-stop (stop)
Tebel kesetaraan nilai exposure relatif adalah:
*akhiran 'm' menunjukkan rentang iluminasi dalam detik
Nilai Exposure yang menunjukkan tingkat iluminasi, baik absolut maupun relatif, tidak mewakili tingkat visibilitas pada akhir foto, sehingga pada kamera biasanya dilengkapi dengan exposure meter indicator yang berfungsi sebagai panduan untuk menentukan mid-tone pada setiap ISO setting dari tiap-tiap area metering, misalnya: spot, matriks, dll.
Exposure bracketing
Fast shutter speed, short exposure
Slow shutter speed, long exposure
Definisi f-stop sesuai rumus di atas adalah nilai logaritmik dari f-number namun sering kita jumpai penyebutan f-stop dengan penggunaan nilai f-number, yang lebih populer daripada penyebutan shutter stop dengan penggunaan nilai shutter speed. Penyebutan f-stop tersebut dimaksudkan untuk teknik exposure bracketing dengan f-number yang disebutkan dan nilai shutter divariasi pada area mid-tone untuk menghasilkan nilai Exposure relatif misalnya -4ev, -2ev, 0ev, +2ev, +4ev. Penggunaan bracketing semacam ini populer pada fotografi HDR untuk menghindari ghosting artifact akibat perbedaan DOF (depth of field) dari beberapa nilai f-number.
Exposure bracketing juga dapat dilakukan dengan menaikkan shutter 1 stop dan menurunkan f-number 1 stop untuk mendapatkan nilai Exposure yang sama. Hasil foto untuk bracketing semacam ini dapat menimbulkan motion blur akibat perbedaan penggunaan shutter speed, seperti tampak pada gambar di samping.
Exposure sebagai tingkat visibilitas
Tingkat iluminasi yang terjadi di atas focal plane, walaupun bernilai sama, dapat menghasilkan foto dengan efek pencahayaan yang berbeda-beda menurut ISO rating yang digunakan. Dalam bahasa Inggris, Exposure semacam ini tidak disebut sebagai exposure, melainkan sebagai imposure atau dynamic range atau light value atau brightness value atau level of exposure. Keadaan tingkat visibilitas rendah disebut under-imposed, yang dapat terjadi karena over-exposed atau under-exposed.
Untuk mengetahui apakah exposure sudah tepat atau belum, pada kamera digital ato konvensional tersedia fasilitas metering. Sehingga terjadinya over exposure (kelebihan pencahayaan) atau under exposure (kekurangan pencahayaan) dapat diminimalkan.
(http://id.wikipedia.org/wiki/pajanan)
- Media (Medium)
- Film (seluloida)
- Digital (sensory)
- Alat (Tools)
- Kamera
- Lensa
- Aperture dan Diafraghma
Diafragma (en:diaphragm) adalah komponen dari lensa yang berfungsi mengatur intensitas cahaya yang masuk ke kamera. Diafragma lensa biasanya membentuk lubang mirip lingkaran atau segi tertentu. Ia terbentuk dari sejumlah lembaran logam (umumnya 5, 7, atau 8 lembar) yang dapat diatur untuk mengubah ukuran lubang (disebut tingkap) (en:aperture) dimana cahaya akan lewat. Tingkap akan mengembang dan menyempit persis pupil di mata manusia.
Karena fungsinya untuk menghentikan cahaya yang akan masuk ke bidang fokal, diafragma juga disebut sebagai stop, blind, field stop dan flare stop. Dan untuk itu, diafragma selalu diletakkan pada jalan masuk antara subyek, lensa dan bidang fokal. Titik tengah tingkap pada diafragma merupakan sumbu optis dari sebuah lensa.
(http://id.wikipedia.org/wiki/ Diafragma_fotografi)
Diafragma lensa biasanya membentuk lubang mirip lingkaran atau segi tertentu. Ia terbentuk dari sejumlah lembaran logam (umumnya 5, 7 atau 8 lembar) yang dapat diatur untuk mengubah ukuran dari lubang bukaan (rana/ shuter) lensa dimana cahaya akan lewat atau dalam fotografi digital Aperture Adalah ukuran bukaan lensa yang berfungsi memasukkan dan meneruskan cahaya ke film atau sensor, atau Aperture adalah komponen dari lensa yang berfungsi mengatur intensitas cahaya yang masuk ke kamera.
Semakin besar pembukaan diafragma maka semakin banyak cahaya yang masuk dan sebaliknya semakin kecil bukaan diafragma maka semakin sedikit cahaya yang masuk.
Angka yang biasanya tertera untuk diafragma adalah 1,4 - 2,8 - 4 - 5,6 - 8 - 11 - 16 dan 22. Angka yang besar menunjukkan bukaan diafragma yang kecil dan angka semakin kecil maka bukaan diafragma menjadi besar.Angka-angka tersebut dikenal sebagai f-number, jadi disebut aperture (bukaan) f/2,8; f/4; f/5,6 dst. Semakin besar aperture semakin kecil f-numbernya dan semakin kecil pula diameter bukaannya, jadi f/16 lebih kecil diameternya daripada f/5,6
Cara kerja aperture mirip pupil pada mata manusia, semakin banyak cahaya yang masuk, semakin kecil diameter pupil, begitu pula sebaliknya. Aperture sangat berhubungan dengan ruang tajam atau depth of field, semakin besar f-number, misal f/22, rentang ketajaman akan semakin lebar. Artinya objek di belakang dan di depan fokus utama memiliki ketajaman yang baik. sebaliknya kita akan mendapatkan efek blur/buram untuk objekdi depan dan dibelakang fokus utama jika menggunakan f-number kecil, misal f/2,8
(http://citrastudio.com/teknik-fotografi.html)
Banyaknya angka diafragma dalam suatu lensa tergantung juga pada kemampuan lensa untuk meneruskan cahaya. Misalnya lensa Sudut Lebar/Wide angle dengan susunan lensa sedikit dan pendek akan lebih banyak memasukkan cahaya, biasanya angka diafragma bisa mencapai 1,4 sedangkan pada lensa tele yang susunan lensanya lebih banyak dan panjang biasanya diafragma terendah sekitar 4 atau 5,6. Untuk keperluan khusus ada juga lensa tele dengan diafragma hingga angka 1,4 yang biasanya memiliki lensa yang sangat besar.
Diafragma mempunyai efek pada gambar yang disebut Depth of Field atau Ruang Ketajaman. Misalnya dengan menggunakan diafragma 1,4 atau dengan bukaan lebar maka semua benda sebelum dan sesudah obyek akan terlihat buram. Sedangkan pada penggunaan diafragma 22 atau bukaan kecil benda di depan obyek focus dan di belakangnya akan terlihat jelas.
Diafragma bukaan kecil (angka besar)
Diafragma bukaan besar (angka kecil)
(http://www.facebook.com/topic.php?uid=76443447687&topic=11772)
- Shutter Speed
Shutter Speed dalam bahasa indonesia disebut kecepatan Rana atau kecepatan penutup dalam istilah fotografi adalah tirai pada kamera yang menutupi permukaan atau sensor exposure pada permukaan film atau sensor foto tadi. Jika tirai ini terbuka maka akan terjadi penangkapan gambar
Kecepatan/shutter speed adalah suatu mekanisme di dalam kamera yang mengatur lamanya cahaya yang masuk ke dalam kamera dalam satuan detik. Angka yang tertera di kamera adalah B, 1, 2, 4, 8, 15, 30, 60, 125, 250, 500 dan seterusnya yang merupakan kelipatan angka sebelumnya. Angka maksimal untuk Kecepatan/Shutter speed tergantung pada kemampuan dari kamera tersebut.
Angka-angka tersebut bukanlah angka yang sebenarnya dalam detik tetapi merupakan penyebut dari pecahan satu per ( 1/x) sehingga dengan angka yang tertera sebesar 60 maka cahaya yang masuk adalah satu per enam puluh detik (1/60 detik).
Semakin besar angkanya berarti semakin cepat waktu yg digunakan, hal ini akan menciptakan efek diam (freeze), misalnya kita akan memotret objek yg sedang bergerak, misal mobil, dengan efek diam, kita memerlukan setidaknya shutter speed diatas 1/125 detik
Sebaliknya bila kita akan memotret objek tersebut dengan efek bergerak, maka dibutuhkan shutter speed kurang dari 1/125 detik, sebaiknya dilakukan dengan cara mengikuti arah gerak objek, hal ini disebut teknik panning,
Dua hal diatas tergantung juga dari kecepatan objek tersebut bergerak, semakin cepat objek bergerak, berarti semakin tinggi shutter speed yg dibutuhkan agar memperoleh efek diam atau bergerak yang kita inginkan, Perlu diperhatikan, semakin rendah shutter speed, akan mengakibatkan semakin besar juga kemungkinan terjadinya camera shaking, yg akan mengakibatkan hasil jepretan menjadi goyang dan tidak tajam.
(http://www.facebook.com/topic.php?uid=76443447687&topic=11772)
Dynamic Range
Dynamic range adalah istilah yang dipakai di berbagai bidang untuk menjelaskan rasio sekumpulan bilangan dari nilai terbesar dan terkecil. Ukuran yang dipakai adalah rasio, base-10 (decibel), base-2 (doubling, bits dan stops).
Dalam bidang fotografi, Rentang dinamis adalah rasio rentang luminasi cahaya yang dapat direkam sensor kamera dari seluruh rentang luminasi cahaya subyek. eksposure pada tingkat iluminasi yang sama di atas di atas focal plane dapat menghasilkan foto dengan efek luminasi yang berbeda karena respon sensor kamera yang berbeda pada nilai ISO ratingnya. Efek luminasi itu juga disebut pajanan, sebutan populer lain adalah imposure atau light value atau brightness value atau level of exposure atau exposure altitude atau exposure range yang menunjukkan tingkat visibilitas subyek fotografi. (http://citrastudio.com/dynamic-range-fotografi.html)
Atau dengan kata lain dynamic range dalam fotografi adalah rentang perbedaab gelap dan terang dari sebuah scene.
Pengaruh dynamic range tersebut dapat diatasi dengan diantaranya, trik High Dynamic Range (HDR) yang sedang populer , penggunaan Gradual ND Filter, Multi Exposure .
HDR (High Dynamic Range)
HDR atau High Dynamic Range dimengerti sebagai suatu keadaan atau proses pembuatan foto yang mengandung rentang Dynamic Range yang besar, yaitu rentang perbedaan antara yang "terang" dan yang "gelap" sangat besar, disebut rentang exposure dinamis. HDR ini dulunya disebut HDRI (High Dynamic Range Imaging).
Ada juga yang mengatakan bahwa HDR adalah sebuah teknik non destruktif olah digital dengan tujuan membuat satu file foto digital dari beberapa foto berobjek sama namun nilai eksposurenyya berbeda sehingga memiliki rentang area dinamis yang lebih tinggi daripada foto digital biasa yang dihasilkan dari kamera digital. Tujuan akhir dari pembuatan file HDR adalah pengolahan untuk memunculkan pola-pola unik pada foto objek tersebut.
Tiga Langkah Utama Cara Membuat Foto HDR :
- Multi-Exposure, ialah membuat beberapa foto yang sama tapi berbeda exposure. (Bracketing).
- Merge, ialah gabungkan foto-foto itu dengan Merge HDR.
- Tone-Map, ialah lakukan Tone Map terhadap gabungannya untuk mengatur Tone terang gelapnya.
Jadi kalau ada keadaan alam atau potret atau apapun di dunia ini yang mengandung perbedaan gelap dan terang yang sangat besar (Dynamic Range besar) anda bisa membuat foto HDR terhadap keadaan itu. Tidak selalu harus siang hari, juga malam hari banyak keadaan yang mengandung HDR.
Contoh teknik HDR:
Foto awal
Hasil HDR
Komentar
Posting Komentar